Amy's Life Journal
Motherhood

Menyapih Anak Dengan Cinta Tanpa Drama dan Air Mata

Memasuki umur Aira yang baru, 2 tahun, saya sebagai Ibu antara senang dan sedih. Senang karena anak nya semakin pinter, semakin bawel, maunya lelarian, kesana kemari, ngatur mama nya duduk disini disana, mamanya tidur disebelah sini, kalo habis mandi sudah bisa milih mau pake baju apa, sudah bisa minta juga mau makan apa, Wahh macem-macem… Sedih karena kok rasanya cepet bangettttt hix hix πŸ™ πŸ™ Takut aja tiba-tiba besok ada cowo yang ngetok rumah buat ngelamar anak saya hahahahaha Masyallah.

2 tahun, sebenernya waktu yang gak sebentar, tapi kalo saya inget-inget bentuk Aira waktu masih Bayi dan sekarang sudah berdiri tegak lari-lari. Waaaaah masih gak percaya kayanya kalo hanya butuh waktu 2 tahun untuk seorang anak jadi sepintar ini! I’m feeling so blessed!

Naah drama anak memasuki umur 2 tahun, semua pasti tau dongg… Menyapih, waktunya untuk disapih, atau lepas nen, atau no more breastfeeding. Anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI dan World Health Organization atau WHO memang menyarankan untuk menyusui anak sampai dengan 2 tahun. Tapi tidak ada kalimat selanjutnya yang melarang jika Ibu dan anak mempercepat menyapih atau ingin menunda menyapih. Ingat ini anjuran, kondisi kesiapan anak dan Ibu untuk berpisah dengan kegiatan menyusui ini berbeda-beda, ada yang mudah ada yang engga. Betul?

Selain itu, saya juga tidak pernah dan belum pernah membaca atau mendengar kandungan Air Susu Ibu atau ASI setelah anak berumur 2 tahun akan berbahaya bagi anak. Setau saya ya ASI adalah sumber nutrisi paling bagus dan alami bagi anak. Jadi kenapa dong anak harus sampe nangis dipaksa-paksa berhenti gak boleh lagi nenen begitu umur 2 tahun?

Saya pernah denger cerita dari kerabat, katanya, menyapih itu sebenernya niatan dari Ibu nya aja. Ketika Ibu nya siap, anak nya akan mengikuti. Menurut saya kegiatan menyusui antara Ibu dan anak, antara saya dan Aira, itu sangat spesial, sehingga untuk menyudahi kegiatan ini harus dari kesiapan kedua belah pihak gak hanya Ibu tapi juga yang terpenting si anak.

So.. yaa gituu… sebulan kebelakang ini sudah banyak nih, ucapan-ucapan entah dari onty nya, nenek kakek dan uti nya, tetangga, ya siapapun yang kenal Aira, bilang “Aira, udah gede ihh gak boleh nen lagi, malu tau!” Respond saya? Cengar-cengir aja… meskipun kadang suka kepo, nanya balik ke yang komen, gimana sih mereka menyapih anaknya.

Rata-rata ya masukannya, diolesin brotowali atau jejamuan biar anaknya gamau karena bikin nen jadi pahit, dikasih obat merah atau dicoret-coret spidol biar anak takut ga mau nen, ditinggalin dirumah nenek atau uti nya biar ibunya gak bisa tidur bareng sama anaknya (sedih banget kan) dengan harapan anaknya lupa untuk nen begitu ketemu sama ibunya, atau Hamil kembali, hahahaha duhh saya skip deh kalo yang ini, karena katanya kalau hamil air ASI akan jadi aneh rasanya.

Pada intinya cara-cara diatas sama aja dengan, mengelabui atau membohongi si anak, bener gak? Dan maaf, saya gak mau menempuh cara itu. Dan setiap orang yang memberikan saran soal menyapih kepada seorang Ibu juga harus paham bahwa keputusan menyapih adalah Hak si Ibu dan Anak πŸ™‚

Aira udah gak bisa dibohongin, kalo dia tau dicurangin pasti ngamuk, nangis, dan saya gak mau kegiatan menyusui antara saya dan anak saya dihentikan dengan tipu-tipu, pertumpahan air mata, rasa sedih, kesal dan marah pada diri anak saya. Ini sama aja kayak menghancurkan bonding yang sudah dibuat 2 tahun kebelakang, hanya demi anak berhenti nen.

Saya rasa anak akan dengan sendirinya menolak untuk nen ketika dia siap, karena kita semua tau, nen itu gak melulu untuk memenuhi dahaga anak, tapi disini ada kebutuhan dilindungi, kenyamanan yang dibutuhkan si anak.

Moso anaknya butuh kenyamanan sama Ibunya, ndak boleh? betul gak tuh?

Lagi pula saya rasa, jarang atau bahkan gak ada anak yang sampai masuk SD masih nenen sama Ibu nya. Cerita-cerita yang saya dengar dan baca mungkin maksimal sampai anak berumur 3 – 4 tahun.

Jadi yang sedang saya lakukan dalam upaya menyapih Aira yang tanpa pertumpahan air mata dan tipu-tipu?

Tidak menawarkan tapi tidak menolak jika diminta

Saya tidak pernah lagi menawarkan nen dimana waktu-waktu biasa nen. Saya tidak menawarkan tapi juga tidak menolak jika Aira meminta. Waktu tidur malam, biasanya kepala Aira akan ada diatas tangan saya, biasanya saya otomatis membuka kancing baju supaya dia bisa nen, sekarang tidak, saya akan elus-elus punggung, kaki atau tangannya dulu, berusaha mencari cara lain agar ia bisa tertidur.

Dulu dimanapun dan kapanpun Aira minta nen, saya akan usahakan untuk kasih, setiap keluar rumah selalu bawa tutupan kain agar ia bisa nen. Sekarang, saya ajarkan bahwa nen saat berpergian harus menunggu pulang ke rumah atau dimobil. Kalau dirumah biasanya nen bisa dilakukan dimana aja, sekarang kalau Aira minta nen akan saya ajak ke kamar.

Kalau malam Aira terbangun, biasanya minta nen, saya coba tawarkan untuk minum air putih, kadang mau tapi kadang juga tidak, sementara ini saya ikuti dulu, kalau dia mau minum air putih, saya selalu memujinya, “Wah anak mama sudah besar minumnya air putih kayak mama.”

Menghipnotis

Hipnotis yang saya maksud disini bukan yang suka kita liat di Tv-tv ya teman-teman. Jadi setiap malam ketika sudah dikamar, lampu sudah gelap dan Aira sudah mulai terlelap, saya suka bisikkin ditelinganya, “Aira sudah besar, aira sudah bisa berhenti nenen dan minum air putih kayak kakak-kakak, mama-papa, karena Aira sudah besar.” Kalimat ini akan saya berikan berulang-ulang, sehingga harapan saya dapat mensugesti alam bawah sadarnya Aira supaya melakukan apa pesan yang saya sampaikan.

Saya juga meminta seluruh keluarga dirumah, untuk memberitahu Aira bahwa ia sudah besar sekarang sudah saatnya untuk minum air putih seperti anak kecil pada umumnya. Iyaa, bilanginnya jangan pakai ejekan atau olokkan, ini membuat hati anak semakin sedih.

Baik dalam mensugesti atau memberitahu Aira, saya usahakan untuk tidak menggunakan kalimat atau kata negatif. Seperti ‘tidak boleh nenen’ atau ‘jangan nenen’ diganti dengan ‘sebaiknya minum air putih saja’ sehingga kalimat sugesti yang masuk ke Aira adalah kalimat-kalimat positif πŸ™‚

Mengalihkan perhatian

Cara ini biasanya saya lakukan di siang hari saat weekend atau libur, sehingga seharian mesti bareng sama Aira. Setiap dia mendekati saya dan mulai meraba-raba, saya akan pura-pura kaget lalu lari, yang akhirnya jadi main lari-larian atau tak umpet.

Biasanya kalau weekday gak ada saya kan dia bisa-bisa aja gak nen, jadi ya saya coba gak kasih kalau siang. Ketika capek main lelarian, kan beneran haus ya, ini saya tawarin air putih dan biasanya glek-glek-glek dia mau. Hehehe

Sampai blog ini dipost Aira masih belum disapih, umur 2 tahunnya juga masih nanti akhir bulan. Tapi saya sudah mulai latih dan sounding sedikit-sedikit dari sekarang. Ya semoga aja cara ini adalah keputusan yang benar bagi saya dan Aira πŸ™‚ Yang penting gimanapun cara menyapihnya, usahakan agar tidak ada pertempuran air mata disana yaaaaa :p

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
Twitter
Pinterest
Pinterest
Instagram

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *