Amy's Life Journal
how to handle wishlist on renovation house
Life Journal

Memenuhi ke-Banyak-Mau-an renovasi rumah

Serah terima kunci rumah mini sudah di bulan Februari 2019. Selanjutnya? Renovasi, bukan renovasi sih, lebih tepatnya emm.. penambahan ruangan di sisa tanah yang tidak dibangun oleh developer. Pengertian renovasi kan memperbaiki bangunan ya, kalau case rumah saya ini lebih ke meng-upgrade bangunan. Iya, karena kualitas bangunan rumah kami, Alhamdulillah bagus, sampe tangan tukang pada kemeng buat jebol tembok ruangan, bahkan mau maku dinding untuk bingkai aja susah banget. Toppp deh Vida Bekasi 🙂 aku luvvv

Rumah saya gak besar, tergolong kecil malah. Luas tanah hanya 60 dan luas awal bangunan 47. Kira-kira bentukan denah awal untuk lantai 1 seperti berikut:

Vida Bekasi, Cluster Botanica – Tipe Basil

Yang saya upgrade dari lantai 1 yaitu taman samping sampai kebelakang itu saya jadikan ruangan. Dapur pindah kebelakang pojok kanan dan kamar mandi saya perkecil. Saya tidak berencana untuk membeli meja makan jadi saya buat table bar (karena naro meja makan kayanya buang tempat), dan memperluas ruang tengah yang saya jadikan ruang keluarga. Sehingga setelah di upgrade akan jadi seperti ini:

Di lantai 2 ada kamar tidur utama dan kamar anak juga kamar mandi. Penampilan denah awalnya seperti ini:

Vida Bekasi, Cluster Botanica – Tipe Basil

Yang saya frustasikan dari bentuk rumah bawaan developer adalah kamar mandi yang terlalu luas baik kamar mandi bawah atau pun atas. Yang saya upgrade di lantai 2… Awalnya kami mau dak full sampai ke depan tutup tembok samping, tapi karena ini Cluster dan segala peraturan masih dibawah naungan Town Management, jadi terbentur aturan yang tidak membolehkan meninggikan tembok samping. Alhasil saya dak hanya sampai batas jendela kamar anak dan kedepannya dibiarkan terbuka dan dipager custom untuk nempatin pot-pot tanaman lee kwan yew nanti.

Budgetnya gimana my? emm.. Pada awalnya saya berencana untuk menggunakan jasa interior all in termasuk design dan renovasi atau upgrade bangunan. Saya udah deal untuk harga design di awal, sama salah satu vendor design interior yang cukup punya nama di instagram. Dia kasih gambar dan kasih estimasi biaya untuk renovasi rumah. Waktu pertama kali draft gambar nya gak seperti yang saya jelasin diatas, tidak ada jebol ruangan bawah, serba simple deh, estimasi biayanya di IDR 80,000,000,- Pusing dong? hehehe

Karena kok kayanya kemahalan, saya cek harga tukang-tukang di sejasa.com, ada 2 vendor yang visit ke rumah, untuk ngukur-ngukur dan ngobrol-ngobrol mau digimanain rumah kita. Biaya yang diestimasikan masih tergolong mahal, cuma beda tipis 3 – 5 jutaan. Alhasil, mama saya menyarankan menggunakan tukang yang biasa dipakai untuk renovasi rumah orang tua. Dengan pertimbangan, saya bisa bebas milih design keramik, belanja material dan pernak-pernik, juga pengeluaran uangnya gak sekaligus, jadi ketika tukang mau beli material baru saya kasih, dan bon-bon nya dikasih ke saya.

Kalau saya hitung-hitung, kira-kira begini pengeluaran untuk renovasi rumah kemarin:

Saya memilih untuk menggunakan sistem harian, kenapa? Pertama, karena tukang jadi tidak terburu-buru dalam mengerjakan rumah. Karena saya banyak mau dan detail, saya gak mau tukang nya manyun karena saya bawel suruh ini itu. Kedua, kualitas material saya dan suami bisa menentukan, kalau borongan pastinya budget sekian akan dipress demi untungnya yang lebih banyak bagi si tukang atau si pimpinan proyek.

Memang kalo dilihat angka totalnya, lebih besar kami menggunakan konvensional tukang. Tapi dari segi pekerjaan yang dilakukan lebih banyak dibandingkan penawaran dari jasa interior dan 2 vendor yang dari sejasa 🙂 hehehe Kekurangannya, kita harus lebih baweeel, harus memastikan apa yang kita arahkan si tukang ini paham dan ngerti. Banyak bangeeet hal-hal lucu, apa yang kita jelasin apa yang kita suruh, ehh beda sama apa yang dikerjain si tukang.. Sering geleng-geleng kepala kita kalo tiap minggu dateng ngecek progress rumah hehehe karena gak ada pimpinan proyek kan hehehe tapi ya dijalanin saja, justru jadi kenangan yang bisa diceritain tho 🙂

Kira-kira begitulah sedikit cerita awal perjalanan meng-upgrade rumah kami. Jika ada hal yang ingin ditanyakan, feel free to reach me! 🙂

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
Twitter
Pinterest
Pinterest
Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *