Amy's Life Journal
5-way-to-start-as-investor
Personal Finance

Memulai dan Belajar Investasi Saham

Sejak menikah dan bertanggung jawab penuh untuk mengatur keuangan keluarga kecil ini, saya worry banyak hal. Pertama, saya bukan tipe hemat bahkan lebih condong ke boros. Kedua, saya buta produk-produk keuangan. Sampai saking parahnya mikir bagaimana seharusnya saya mengatur keuangan, sampai jatuh sakit kena Hypokalemia πŸ™

Di kasus saya, orang tua hanya mengajarkan bagaimana menabung dan mendoktrin hidup hemat. Tapi logika yang saya miliki, uang gak akan pernah bertumbuh kalau hanya ditabung ditaro diendepin di tabungan kan? Akhirnya saya browsing, bagaimana caranya agar uang yang kami miliki nilainya tidak turun karena inflasi, justru mengikuti nilai yang berlaku atau lebih baik lagi jika uang kami bisa tumbuh πŸ™‚

Jalannya, yang pasti harus mengenal dan memahami produk-produk investasi. Ada investasi emas, investasi tanah, produk unit link, reksa dana, saham, dan banyak lagi yang lain mungkin ya?

Tapi saya mau fokus di saham, kenapa? Pertama, karena murah pake banget, yang gak tau pasti gak percaya, harga saham BBRI di tgl 16 Juli 2019 aja hanya IDR 4,550/lembar saham, minimal pembelian 100 lembar saham berarti tinggal dikali aja tuh, total IDR 455,000,-, lebih murah dibanding lipstick dan foundation kita kan? hahaha. Kedua, karena setelah saya telusuri lebih jauh dari unit link dan reksa dana, itu semua ujungnya berakhir di saham. Jadi kenapa saya harus taro uang saya di unit link atau reksa dana, kalau saya bisa beli dan investasi sendiri-langsung ke saham.

Ngebahas sedikit soal produk unit link, saya adalah salah satu konsumen unitlink sewaktu buta soal produk investasi. Iya, dari awal kerja tahun 2014 – 2018 akhir, saya menyisihkan IDR 800,000,-/bulan untuk bayar produk ini. Produk unit link yang saya beli itu dalam bentuk Asuransi Kesehatan, saya gak akan menyebut brand nya disini, tapi memang dulu waktu awal join memutuskan ikut, karena bingung mau nabung tapi takut kepake, akhirnya dengan iming-iming meng-cover kesehatan dan dapet return, yaudah iya aja. Begitu tau, begitu baca isi buku polis nya… haaaah segitu menyesalnya diriku ini… Bodoh sekali…

Saya gak paham kenapa saham punya image yang gak terlalu baik dikalangan masyarakat Indonesia. Pernah ada yang bilang “kalo menguntungkan, ngapain bilang-bilang ke orang lain”, yaa bener sih emang.. Orang kalau udah paham menilai saham yang bagus dan engga, pasti emoh berbagi sama yang lain sekalipun sodara atau temen. Tabiat manusia tho? hahaha

Ada juga yang menilai, saham itu Riba bahkan Haram? Sampai saat ini masih banyak pro-kontra soal transaksi jual-beli saham memang. Saya sendiri cenderung yang berfikir, “kalau saya membeli saham dengan mempelajari, menganalisis bearti tidak dalam keadaan ‘Gharar’ atau pertaruhan dan ‘Jahalah’ atau ketidakpastian, saya menganggap saham yang saya beli itu halal, saya mengganggap saya berinvestasi pada perusahaan yang sahamnya saya beli.” Etss ini menurut pemikiran saya loh, monggo kerso kalau kalian punya pemikiran yang berbeda asal jangan menghakimi πŸ™‚ Apalagi bagi yang gak pernah terjun langsung hehehe Do not comment please!

Simplenya yah, kalau saya punya usaha catering, karena modal saya kurang banyak, adik saya nambahin modal catering saya, lalu di akhir tahun keuntungannya dibagi berdasarkan persentase modal dankesepakatan awal. Begitu juga dengan saham, ada perusahaan yang butuh modal, sehingga perusahaan ini mendaftarkan diri di BEI (Bursa Efek Indonesia) menjadi perusahaan public (IPO) agar masyarakat umum bisa membeli saham perusahaan dan perusahaan mendapatkan modal tambahan. Jika ada keuntungan, maka diputuskan di Rapat Umum Pemegang Saham, akan ada pembagian deviden atau tidak. Sama kan? Bedanya mungkin kalau di saham ada capital gain/loss, jadi ada selisih harga pertama kali membeli saham dengan saat ini. Capital gain ini yang biasanya memberikan keuntungan lebih banyak dibanding deviden.

Saya tipe investor, cahelah investor :p, yang gak memantau saham saya setiap harinya, paling gak 1 bulan sekali aja lihatnya, kalau yakin fundamental sama laporan keuangan perusahaannya Oke. Rugi pernah? Ya pernah-lah, tapi anggep aja itu biaya belajar, karena kalau gak nyemplung langsung praktek, gak akan pernah paham yang namanya investasi di saham.

Kadang bingung kalau nawarin temen buat bikin rekening RDN untuk beli saham, jawabannya “ah nanti myy, gw belum paham saham gimana” atu “ah nanty myy, gw belum banyak gajinya”… Yang nanti nanti ini sebenernya yang menjadikan kita gak pernah paham, ya gak sih?

5 langkah awal memulai investasi saham. Pilih sekuritas, membuka rekening dana nasabah atau rekening dana investasi

Nah, sekarang gimana caranya kalau mau investasi saham?

1) Pilih Perusahaan Sekuritas

Pertama, kita harus pilih Perusahaan Sekuritas nya. Perusahaan Sekuritas ini berfungsi sebagai perantara bagi kita, investor, untuk bisa membeli atau menjual saham. Beberapa point pertimbangan yang mungkin bisa dinilai sebelum memutuskan registrasi di Perusahaan Sekuritas, kalau saya:

  • Deposit awal, karena pemula saya lebih prefer perusahaan sekuritas yang tida menentukan minimal besaran deposit awal,
  • Platform online, Kalau bisa pilih perusahaan sekuritas yang punya aplikasi online, jadi memudahkan kita beli/jual saham secara online dan langsung,
  • Fee jual dan beli saham, berbeda sekuritas akan berbeda ketetapan fee jual dan beli nya. Kalau saya milih yang fee nya relatif kecil, karena semakin kecil fee nya semakin sedikit keuntungan kamu dipotong πŸ™‚

Saya pribadi menggunakan dua perusahaan sekuritas, kenapa dua? Karena saya mau membedakan tujuan investasi nya yang jangka panjang dan jangka pendek.

  • Indopremier, saya menggunakan perusahan sekuritas ini karena fee jual dan beli nya yang tergolong rendah. Fee jual 0.29% dan fee beli 0.19%. Disini saya biasa melakukan investasi jangka pendek, juga aplikasi nya sangat mudah digunakan serta adanya Training-training yang dibuat perusahaan sekuritas bagi pemula
  • MNC Sekuritas, saya menggunakan perusahaan sekuritas ini untuk investasi jangka panjang. Fee jual 0.28% dan fee beli 0.18%. Aplikasinya mudah sih, cuma tampilannya sedikit lebih complicated hehe

2) Membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) atau Rekening Dana Investasi (RDI)

Kedua, kita diharuskan membuka Rekening Dana Nasabah (RDN) atau biasa juga disebut Rekening Dana Investasi (RDI). Biasanya saat kita mendaftarkan diri ke Perusahaan Sekuritas, selain mengisi beberapa form pendaftaran, kita juga akan diminta unutk mengisi form pembukaan RDN atau RDI (jika belum memiliki). Rekening ini berguna untuk menampung dana investasi kita yang akan digunakan untuk membeli dan menjual saham. Jadi uangnya akan dikreditkan melalui rekening ini, begitu juga saat jual saham, uangnya akan terdebit otomatis ke rekening ini. Untuk membuka RDN atau RDI ini sama halnya seperti kita buka rekening tabungan biasa di bank, data yang dibutuhkan hanya KTP dan NPWP saja.

3) Menunggu Verifikasi Data dari Perusahaan Sekuritas

Saat memverifikasi data calon investor, perusahaan sekuritas akan menghubungi kita, ada juga yang mengharuskan by Video call melalui Skype atau Whatsapp Video Call. Tujuannya untuk memastikan kontak serta wujud diri kita hehehe *sotoy. Mungkin selah 2 – 3 hari kerja, kita akan menerima email konfirmasi dari perusahaan sekuritas kita mendaftar mengenai account, password juga nomor rekening RDN atau RDI atas nama kita.

4) Mentransfer Dana Investasi ke RDN atau RDI

Selanjutnya tinggal mentransfer dana investasi yang akan kamu gunakan untuk membeli saham ke rekening RDN atau RDI. Tidak harus seluruh dana yang kita masukan ke RDN atau RDI dibelikan saham, kita bisa menyimpan dana di RDN atau RDI seperti halnya rekening tabungan πŸ™‚

5) Memulai Beli Saham

Terakhir, silahkan trial account nya di platform perusahaan sekuritas tempat kita mendaftar, juga trial beli-jual saham melalui RDN atau RDI kita. Mudah bangeeeet kan? πŸ™‚

Kira-kira flowchart nya tuh begini:

Kita – Perusahaan Sekuritas – Perusahaan yang menjual Sahamnya

Perusahaan sekuritas ini berperan sebagai perantara atau broker buat kita bisa membeli saham di bursa.

Jangan takut soal keamanan saham yang kita beli dan uang yang kita simpan di Rekening Dana Investor, karena masing-masing di jamin sama Pemerintah. Kalo gak salah, saham kita disimpan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jadi bukan disimpan di Sekuritas yah. Nanti setelah registrasi di Perusahaan Sekuritas, secara otomatis kita juga terdaftar di KSEI dan dikirimin kartu keanggotaannya.

Seluruh transaksi investasi kita pun bisa terlihat di website nya KSEI loh! Meskipun punya beberapa akun perusahaan sekuritas tapi tetep ke data jumlah saham yang dimiliki. Gak cuma saham, tapi Surat Berharga Negara yang kita beli lewat Bank-bank atau merchant pembelian SBN, Reksa Dana, Kas kita di Rekening Dana Investasi, semua terdata di KSEI.

Soal uang kita yang disimpan di Rekening Dana Investasi yang kita simpan di Bank melalui Perusahaan Sekuritas pun juga diawasi oleh PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (PPPIEI).

Naaah, Segampang dan seaman itu loh! Masih mau nitip dana investasi ke produk investasi lain? hehehe Saya siiiih Nooo πŸ™‚

Kalau ada yang kurang jelas silahkan feel free to reach me! yah πŸ™‚ Selamat mencoba dan selamat berinvestasi teman-teman! Good luck and keep learning!

Please follow and like us:
Facebook
Facebook
Twitter
Pinterest
Pinterest
Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *